Tapuak Galembong

Tapuak Galembong merupakan sebuah jenis tari yang mengadaptasi gerakan dalam Randai, yang diiringi oleh dendang yang disesuaikan dengan gerakan randai. Penari menggunakan sarawa galembong yang merupakan celana yang khusus digunakan dalam Randai.

Penari memukul bagian bawah celana sehingga menghasilkan bunyi yang diatur sedemikianrupa sehingga terdengar seperti perkusi yang menarik.

 

Kabupaten Sijunjung menampilkan Tapuak Galembong ini secara massal dalam iven Tour de Singkarak 2013 (menjelang start etape IV Sijunjung – Pulau Punjung) pada 5 Juni 2013 dengan melibatkan 120 orang penari (laki-laki) yang berasal dari beberapa Grup Randai di Kabupaten Sijunjung.

Suara perkusi yang dihasilkan Tapuak Galembong massal ini menarik perhatian para atlit, penonton dan tamu yang ada di arena Start Tour de Singkarak 2013 ini.

 

Advertisements

img_4201.jpg

Lokomotif uap ini berjarak ± 2,5 Km dari Pasir Putih. Ditemukan sekitar tahun 1980 di Nagari Durian Gadang dalam kondisi setengah tertimbun. Saat ini Lokomotif Uap sudah diangkat dan dibuatkan cungkupnya.
Lokomotif Uap merupakan saksi sejarah dari penjajahan Jepang. Pada tahun 1942 Jepang mengumpulkan para pemuda dari Jawa dan Sumatra yang dijanjikan untuk disekolahkan, namun kenyataannya dibawa ke Sumatera, tepatnya ke daerah MUSIDUGA untuk menjadi Romusha. Para Romusha melakukan kerja paksa untuk membuat rel yang menghubungkan Muaro dengan Pakan Baru. Lokomotif ini sempat beroperasi selama 6 bulan dari Muaro ke Kuantan Senggigi (Pekan Baru) untuk mengangkut batu bara dan hasil alam ke Kuantan Senggigi, dan mengangkut bahan logistik ke Muaro.

Ngalau Talago

Ngalau Talago

Terletak di Nagari Silokek, dengan jarak 2 km dari Pasir Putih. Untuk sampai ke pintu Ngalau Talago dibutuhkan waktu tempuh sekitar 2 jam dengan melewati beberapa anak sungai dan perkebunan masyarakat. Medan yang ditempuh yang cukup sulit sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi pecinta Trekking.